Selasa, 01 Januari 2013
Habibie dan Soeharto
Beberapa hari yang lalu, penulis menonton sebuah film apik, Habibie dan Ainun, sebuah kisah nyata percintaan yang sangat romantic dari sosok Presiden RI yang ke 3. Namun dari semua cerita percintaan diselipkan karir seorang hebat seperti Habibie dalam menempuh kehidupan berliku dan pantang menyerah. Sebuah film inspiratif yang sangat bagus ditonton seluruh gererasi, dengan berbagai hikmah yang bisa kita ambil dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Saya coba mengambil sebuah sisi lain dari film tersebut, dimana dalam film tersebut, Habibie muda yang telah mendapatkan gelar S3 di Jerman mempunyai niat untuk membangun negaranya, Indonesia. Beliau menuliskan surat kepada Pemerintah Indonesia dan dengan kecewanya beliau mendapatkan jawaban surat bahwa niatnya untuk mengabdi belum diberikan kesempatan saat itu. Dalam kekecewaannya, Habibie, tidak putus asa dan terus menjalankan hidupnya sebagai technocrat dan mendapatkan kepercayaan luar bisaa di perusahaan tempat beliau bekerja.
Bukan hal itu yang penulis menemukan hikmah dari film ini, namun hikmah terbaik dari film ini versi penulis adalah ketika Ibnu Sutowo memanggil Habibie, dengan membawa perintah Presiden Suharto, agar Habibie kembali ke negaranya dan membantu membangun negaranya. Dikisahkan bahwa Habibie menjelaskan bahwa bukan beliau tidak mau, namun Pemerintah Indonesia saat itu tidak menerima beliau. Dan dijawab dengan tegas, sekarang jaman Presiden Suharto, apa yang kamu mau, akan dipenuhi.
Sebuah penawaran besar dengan penghargaan besar, bagaimana seorang Presiden melihat anak bangsa yang sangat berpotensi, dan diberikan kesempatan besar untuk membangun teknologi di Negara ini. Bukan perjudian tanpa dasar, namun kepentingan bangsa dengan modal anak bangsa berpotensi membuat seorang pemimpin seperti Presiden Suharto mengambil keputusan tepat, memberikan sebuah kesempataan pada putra-putra terbaik bangsa untuk bertanggung jawab dan mengambil peran aktif dalam membangun Indonesia. Rasanya, hasilnya tidak usah kita perdebatkan, karena Bata mini juga sebuah karya nyata pembangunan yang pernah di pegang oleh Habibie pada masa 1978-1998.
Bagian terbaiknya adalah melihat kesuksesan ketika Indonesia bisa membuat pesawat terbang dengan tangan dingin dan kejeniusan Habibie, sebuah kebanggaan yang tidak bisa dinilai, bahwa pada tahun 1995 kita sudah pernah mebuat sebuah pesawat. Habibie menjawab kepercayaan Suharto dengan bukti, dengan sejumlah industry strategis dan proyek pengembangan, semua dikerjakan dengan baik dan professional. Tentunya apabila kita hubungkan lagi dengan filmnya, bahwa ada seorang Ainun dibalik kesuksesan Habibie.
Sebuah pelajaran bagi kita semua, bahwa ketika kita memimpin dan memegang kekuasaan, berilah sebuah kepercayaan yang tepat pada orang yang tepat. Sebuah visi besar pemimpin perlu diwujudkan oleh pemimpin satu tingkat dibawahnya. Dan memilih pembantu pemimpin bukan dengan cara lotre, nepotisme atau beberapa cara tidak elegan. Diperlukan pertimbangan, pengkajian dan keyakinan. Dengan memberikan sebuah kepercayaan pada orang yang amanah, kita bisa melihat apa yang dilakukan oleh Soeharto menjadi sebuah langakh tepat bagi langkah besar bangsa Indonesia di dunia.
Langganan:
Komentar (Atom)